Bayern Munchen Sumbang Pemain Terbaik dan Terburuk

Bukan hal yang mengherankan jika Bayern Munchen mengirimkan pemain sangat banyak dalam ajang Piala Eropa 2016 kemarin. The Bavarian memang merupakan salah satu klub yang memiliki kedalaman skuad paling lengkap. Bahkan kejutan dari RB Leipzig yang menghancurkan tim sekelas Borussia Dortmund sebagai salah satu dari penguasa dua posisi teratas bersama Bayern.

Thomas Muller tidak berhasil mencetak gol sepanjang Euro 2016

Thomas Muller tidak berhasil mencetak gol sepanjang Euro 2016

Disini benar-benar terlihat kualitas Bayern Munchen sebagai salah satu klub besar. Siapapun pelatihnya, siapapun yang menjadi kompetitornya atau apapun itu tak bisa menggeser Bayern dari status klub terbesar di Jerman. Dan imbasnya tentu saja para pemain mereka yang mendapat panggilan dari tim nasional masing-masing untuk membela negara mereka pada perhelatan Euro 2016 tahun lalu.

Jerman memang tidak berhasil mengangkat trofi turnamen tertinggi di Benua Eropa tersebut. Namun di sepanjang turnamen Jerome Boateng dan kawan-kawan berhasil tampil mengesankan sebelum akhirnya gugur di tangan tuan rumah Perancis dengan skor akhir 2-0. Berkat penampilan tersebut sejumlah pemain pun menjadi perhatian. Banyak yang bermain bagus, namun tidak sedikit juga yang tampil buruk.

Boateng dan Kimmich Masuk Best Team Euro 2016

Bayern Munchen mungkin merupakan satu-satunya tim yang memiliki kekuatan paling merata dan mendalam di seluruh sektor. Baik pertahanan maupun penyerangan semua memiliki keseimbangan yang sangat baik. Dan jika menengok ketika pagelaran Euro 2016 kemarin, ada dua pemain Bayern Munchen yang mendapat predikat pemain terbaik.

Kombinasi Boateng dan Kimmich di lini belakang membuat Jerman cleansheet hingga semifinal

Kombinasi Boateng dan Kimmich di lini belakang membuat Jerman cleansheet hingga semifinal

Yang mengejutkan adalah kedua pemain tersebut bukanlah sang mesin gol Robert Lewandowski maupun Thomas Mueller. Kedua sosok pemain Bayern tersebut pemain bertahan Jerome Boateng dan sang gelandang bertahan Joshua Kimmich. Boateng dan Kimmich memang telah berhasil tampil impresif dengan menjaga wilayah pertahanan timas Jerman.

Berkat kedua nama tersebut, Jerman berhasil mencatat cleansheet terpanjang hingga babak semifinal sebelum akhirnya menyerah dua gol sekaligus atas Perancis. Sebenarnya hal tersebut tidaklah mengherankan, sebab di sektor tengah Jerman mempunyai sosok Toni Kroos. Meski kini tidak lagi setim dengan Boateng dan Kimmich, pemain Real Madrid tersebut sempat menjadi andalan di lini tenah Bayern Munchen.

Lewandowski dan Mueller Masuk Pemain Terburuk XI

Berbeda nasib dengan Jerome Boateng dan Koshua Kimmich, dua bomber Bayern Munchen justru terpilih ke dalam starting XI pemain terburuk Euro 2016. Siapa lagi kalau bukan Robert Lewandowski dan Thomas Mueller yang merupakan ujung tombak serangan klub asal ibukota Jerman tersebut. Kedua pemain tidak berhasil menunjukan performa terbaik mereka di ajang turnamen 4 tahun sekali di eropa tersebut.

Robert Lewandowski tak tampil bersinar bersama timnas Polandia

Robert Lewandowski tak tampil bersinar bersama timnas Polandia

Robert Lewandowski tidak bersinar ketika harus tampil bersama tim nasional Polandia. Namun sepertinya tidak terlalu mengherankan, megingat kekuatan skuad timnas Polandia yang memang tidak mereta di seluru sektor. Sementara Lewandowski sendiri selalu bermain dengan sekumpulan pemain pilihan bersama Bayern Munchen. Jadi permainan buruknya tersebut rasanya bisa dimaklumi.

Akan tetapi lain hal dengan Thomas Mueller. Pemain berusia 28 tahun ini seperti kehilangan permainannya seperti ketika saat dirinya membela Der Panzer di World Cup 2014. Selalu tampil sebagai starter di seluruh babak turnamen Euro 2016. Akan tetapi Muller tak juga mampu mencetak keunggulan bagi Jerman. Jadi, sepertinya wajar saja jika sang pemain masuk ke dalam skuad Euro 2016 terburuk saat itu.

Tidak hanya Lewandowski dan Muller, ada satu pemain Bayern Munchen lagi yang ternyata  termasuk dalam sskuad terburuk Euro 2016. Pemain tersebut adalah pemain sayap/wingback The Bavarian, David Alaba. Di klub Alaba selalu berhasil tampil impresif, namun sayang sang pemai bertahan tidak berhasil bersinar bersama tim nas Austria.

Pemain Mahal Terbaik dan Terburuk Yang Pernah Dibeli Chelsea

Uang, money, dollar atau apapun orang-orang di seluruh dunia menyebutnya, merupakan faktor yang dapat menentukan nasib sebuah klub sepakbola. Memang bukan segalanya, akan tetapi jika sebuah tim kekurangan uang, maka kesempatan membengun tim pun juga akan semakin kecil. Hal ini ternyata benar-benar disadari oleh pemilik saham tunggal Chelsea, Roman Abramovich.

Moses bersinar dibawah kepelatihan Conte

Moses bersinar dibawah kepelatihan Conte

Pengusaha asa Rusia tersebut memang terkenal sebagai sosok pemilik yang tidak pelit untuk menghabiskan dana demi belanja pemain. Terlebih sewaktu jaman kepemimpinan Jose Mourinho, Abramovich sangat royal sekali kala itu. Sedangkan prestasi yang didapat justru nol besar. Mereka hanya berhasil finish di posisi 7 klasemen Liga Inggris musim 2010-2016, padahal musim sebelumnya mereka merupakan juara.

Kini sejak kedatangan Conte, pengeluaran Abramovich untuk membelanjakan dana klub menjadi lebih terkendali. Conte tidak terlalu bernafsu untuk membeli pemain berharga tinggi. Justru juru taktik asal Italia tersebut berhasil memanfaatkan skuad muda The Blues seperti Victor Moses, Kenedy hingga Ruben Loftus-Cheek. Kita semua tentu mengetahui betapa tidak dianggapnya pemain tersebut saat jaman Mourinho.

Moses di Tangan Conte, From Nothing to Something

Victor Moses merupakan salah satu pemain yang berkontribusi atas kesuksesan Chelsea musim ini. Sang pemain memang tidak terlalu terlihat sepaj terjangnya sejak diboyong dari Wigan Athletic dengan banderol 7 juta poundsterling. Kala itu masih banyak sekali bintang bertaburan di lini tengah dan sayap The Blues. Sehingga sangat wajar apabila Moses agak sulit untuk menembus skuad utama Chelsea.

Moses menjadi pemain vital di skuad utama Chelsea

Moses menjadi pemain vital di skuad utama Chelsea

Masuk pada masa kembalinya Jose Mourinho ke Chelsea, nama Moses semakin jarang menghuni skuad reguler Si London Biru. Seiring dengan terpuruknya prestasi Eden Hazard dan kawan-kawan kala itu, semakin sedikit penikmat sepakbola yang menyadari talenta pemuda asal Nigeria tersebut. Akan tetapi memasuki musim  2016-2017 Moses berhasil menggoreskan tinta emasnya dalam perjalanan Chelsea musim itu.

Kehadiran Antonio Conte yang menjabat sebagai manajer baru The Blues membuat frekuensi bermain Moses semakin tinggi. Area sisi kanan lapangan yang menjadi spesialis Moses pun semakin sering dihuninya. Banyak yang menyimpulkan bahwa perubahan skema habis-habisan yang dilakukan Conte sangat membutuhkan kinerja Moses di sisi sayap kanan.

Bukan hanya untuk kepentingan karir pribadinya saja, bahkan Moses berhasil membawa Chelsea meraih kejayaan musim ini. Chelsea sukses mengangkat kembali trofi Premier League yang dua musim lalu sempat dilakukannya. Keberadaan Moses tidak bisa dipungkiri sangat mempengaruhi performa Chelsea. Sang pemain kerap beberapa kali mencetak gol maupun assist dalam sebuah pertandingan krusial.

Chelsea Sempat Tertipu Dengan Nama Besar

Torres salah satu pembelian terburuk Chelsea

Torres salah satu pembelian terburuk Chelsea

Meski musim ini Chelsea terbilang beruntung karena berhasil mendapatkan sejumlah pemain berkualitas dengan harga minim, bukan berarti mereka tak pernah salah ambil keputusan. Beberapa kali The Blues sempat membeli pemain dengan harga fantastis. Namun ketika kompetisi berlangsung sang pemain tidak bisa menunjukan kualitasnya sepadan dengan banderol harga yang mahal.

Sebut saja dua penyerang ujung Chelsea beberapa tahun lalu, Andriy Shevchenko dan Fernando Torres. Kedua nama tersebut bisa dibilang sebagai kesalahan tim dalam  mengambil keputusan. Sejak sahamnya dikuasai secara pribadi oleh Roman Abramovich, The Blues memang tidak pernah pelit dalam urusan belanja pemain. Ditambah lagi sang pengusaha asal Rusia tersebut gemar mengincar pemain yang menjadi ikon klub.

Bermula dari Andriy Shevchenko, Michael Ballack, Ashley Cole hingga yang paling baru adalah Fernando Torres. Pemain-pemain tersebut merupakan sosok yang mempunyai peran penting di klub mereka terdahulu. Apalagi Torres yang merupakan mesin gol utama Liverpool kala itu. Namun yang terjadi justru Torres semakin terpuruk di Stamford Bridge hingga akhirnya memutuskan kembali ke mantan klubnya, Atletico Madrid.

 

Valencia, Jual Pemain Buruk, Dapat Pemain Buruk

Sial, mungkin kata inilah yang paling tepat untuk menggambarkan situasi Valencia musim ini. Klub asal Valencis, Spanyol ini memang bisa dibilang tengah berada pada titik rendah mereka saat ini. Padahal pada era awal 2000-an Valencia termasuk salah satu klub yang bisa menghancurkan dominasi Real Madrid dan Barcelona di La Liga Spanyol.

Mungkin ada yang berpikiran masalah manajemen klub yang kurang bagus membuat aliran keluar-masuk dana serta pemain disana menjadi buruk. Dalam satu dekade terakhir mungkin bisa dihitung jari berapa kali Valencia mendatangkan maupun mengorbitkan salah satu pemain bintang. Secara prestasi pun klub ini bisa dibilang hidup segan mati tak mau.

Yang paling baru dan kebetulan paling menarik adalah fakta tentagf jual-beli pemain yang dilakukan Valencia. Entah apakah ini memang nasib buruk bagi Valencia atau bukan. Namun semua pemain yang berkaitan dengan klub yang bermarkas di Stadion Mestalla tersebut prestasinya sedikit suram di musim ini. Siapa saja pemain tersebut? Simak artikel di bawah ini.

Jual Gomez dan Alcacer ke Barca, Melempem

Paco Alcacer dan Andre Gomez ketika masih bersergam Valencia

Paco Alcacer dan Andre Gomez ketika masih bersergam Valencia

Valencia menjual dua pemain andalan mereka di lini tengha dan lini depan mereka sekaligus. Adalah Andre Gomez dan Paco Alcacer yang mencoba peruntungan mereka di satu klub yang sama, yaitu Barcelona. Keputusan ini merupakan sebuah keputusan yang terbilang berani bagi kedua pihak. Bagi Valencia maupun bagi kedua pemain, seakan keputusan ini seperti gambling saja.

Seperti yang kita ketahui, Barcelona memiliki kedalaman skuad yang sangat baik. Lini tengah maupun lini depan Barca masih tetap tajam meskipun kini tidak lagi segalak ketika memiliki kombinasi Xavi-Iniesta di lini tengah. Sementara di lini depan lebih gila lagi, setiap pemain harus bisa menembus dominasi trio MSN (Messi, Suarez, Neymar).

Namun meski begitu tetap saja kedua pemain tersebut memilih untuk hengkang dan klub pun menyetujuinya. Merupakan keputusan yang kurang bijak yang dilakukan Valencia. Sebab mereka sendiri tidak memiliki sosok pengganti kedua pemain tersebut. Mungkin masih ada Luis Nani, Mario Suarez, Munir El-Haddadi, namun nyatanya nama-nama tersebut tak begitu bersinar juga.

Beli Garay dan Pinjam Mangala, Lini Belakang Valencia Berantakan

Menjual kedua andalan mereka di lini depan dan lini tengah, Paco Alcacer dan Andre Gomez, Valencia semakin kehabisan opsi untuk lini depan mereka. Bukannya menambah amunisi baru di sektor tersebut, Kelelawar Mestalla justru malah memboyong bek Zenit St. Petersburg asal Argentina, Ezequiel Garay. Selain itu, klub yang membesarkan nama Fernando Morientes tersebut juga meminjam Eliaquim Mangala dari Man City.

Lantas apakah kedua pemain tersebut berhasil mengangkat prestasi Valencia musim lalu? Jawabannya adalah tidak bisa. Malah Valencia tercatat lebih banyak kebobolan daripada menceploskan bola ke gawang lawan sekaligus lebih banyak berkubang di papan bawah klasemen musim 2016/17 ini. Bek serta sistem bertahan mereka pasca ditinggal Skhodran Mustafi ke Arsenal menjadi sorotan atas hasil buruk yang diperoleh Valencia musim ini.

Dari 10 laga pertama Los Che di La Liga, Garay hanya menang tiga kali dan sisanya berakhir dengan kekalahan atau hasil imbang. Tak adil memang jika menyalahkan Garay seorang, namun bobroknya sistem pertahanan Valencia juga tak lepas dari bagaimana Garay dan yang lainnya menerjemahkan instruksi pelatih saat di lapangan. Terlepas dari masalah beban tanggung jawab tim, Garay memang bermain dengan buruk musim lalu.

 

 

Bravo, Lesu di Liga Galak di Timnas

Claudio Bravo sukses menjadi pahlawan dalam pertandingan semifinal Piala Konfederasi saat tim nasional Cili mengandaskan perlawanan Portugal. Dalam turnamen yang digelar di Kazan Arena, Rusia tersebut Bravo dan kawan-kawan berhasil mengubur mimpi Cristiano Ronaldo cs untuk melaju ke babak final lewat adu penalti. Bravo berhasil menjadi penyelamat usai menggagalkan tiga eksekutor Portugal secara beruntun.

Bravo tampil fantastis dalam laga kontra Portugal

Bravo tampil fantastis dalam laga kontra Portugal

Dalam laga semifinal tersebut, kedua tim bermain dengan sangat ketat. Tidak ada satu pun gol yang tercipta hingga 2 kali 45 menit pertandingan. Bahkan hingga dua kali 15 menit perpanjangan waktu dilakukan, skor kacamata tetap bertahan. Dan akhirnya Cili berhasil memastikan kemenangan mereka lewat babak adu penalti dengan skor akhir 3-0. Kejadian ini seperti pengulangan final Concacaf tahun lalu ketika Cili menumbangkan Argentina.

Penampilan impresif Claudio Bravo berhasil menjadikannya man of the match dalam pertandingan ini. Sempat menjadi tumpuan di bawah mistar gawang Manchester City, penampilan Bravo di liga musim kemarin terbilang buruk. Bahkan The Citizens hanya mampu finish di urutan ketiga dalam kompetisi Liga Premier Inggris musim 2016-2017. Namun hal yang berbeda justru terjadi di timnas Cili dalam Piala Konfederasi 2017.

Bravo Tahan Tiga Penalti Beruntun

Tim nasional Cili memastikan tempat mereka di partai final Piala Konfederasi 2017. Mereka berhasil lolos usai menjalani pertandingan semi-final mendebarkan melawan Portugal di Kazan Arena, Rusia Kamis 29 Juni kemarin. Menjalani laga yang sangat ketat, kedua tim tersebut terpaksa menyelesaikan laga dengan adu penalti yang berakhir 3-0 untuk kemenangan Cili.

Bravo menjadi pahlawan bagi timnas Cili

Bravo menjadi pahlawan bagi timnas Cili

Dalam babak adu penalti tersebut, Bravo menjadi pahlawan kemenangan Cili usai menjaga gawangnya sama sekali tak kebobolan. Kiper Manchester City itu sukses menepis tiga penendang Portugal yakni Ricardo Quaresma, Joao Moutinho dan Nani secara beruntun. Sementara di kubu Cile sendiri, Vidal, Charles Aranguiz dan Sanchez sempurna menjalankan tugas mereka.

Tidak hanya di babak penalti saja, Bravo bahkan tampil dengan sangat baik di sepanjang jalannya laga. Beberapa kali kiper Cili tersebut menggagalkan usaha Ronaldo dan kawan-kawan untuk mencuri gol dari gawang Cili. Terbukti gawang yang dijaga Bravo berhasil aman hingga 90 menit pertandingan dan 30 menit tambahan waktu. Hingga akhirnya sang kiper berhasil memupuskan harapan Portugal.

Kucing di Klub, Tapi Singa di Timnas

Laga berjalan menarik sejak awal dengan kedua tim bermain terbuka dan saling balas serangan. Cile unggul dalam serangan ketika memanfaatkan lebar lapangan, sementara Portugal lebih fokus lewat tengah dengan pergerakan Ronaldo. Tapi babak pertama harus ditutup tanpa gol selepas kedua tim sama-sama tak mampu mengoptimalkan setiap peluang yang didapat.

Aksi Bravo menahan eksekusi penalti Quaresma

Aksi Bravo menahan eksekusi penalti Quaresma

Laga yang berlangsung di Kazan semakin menarik di paruh kedua. Kedua tim sama-sama gencar melancarkan serangan yang sangat bahaya. Baik Alexis Sanchez maupun Cristiano Ronaldo saling menebar ancaman ke gawang lawan. Sayang sekali hingga wasit meniup peluit tanda waktu normal pertandingan berakhir, kedua tim sama-sama belum berhasil memecah kebuntuan.

Pertandingan terpaksa dilanjutan ke babak tambahan. Meski tapaknya atmosfir pertandingan sudah panas sejak awal, tempo permainan tampak tak mengalami perubahan di babak tambahan ini. Mental dan ketahanan fisik kedua tim tidak tampak seperti dua tim yang frustasi. Masih saling menciptakan peluang, namun pada akhirnya laga pun dilanjutkan ke adu penalti.

Adalah Claudio Bravo yang berhasil menjadi pahlawan Portugal dalam babak adu penalti. Penampilan Bravo ini sangatlah mengagetkan, mengingat penampilan sang pemain bersama Manchester City terbilang tidak terlalu gemilang. Momen ini mengingatkan akan kesaktian Bravo yang juga sukses menumbangkan Lionel Messi bersama Argentina di Final CONCACAF 2016 lalu.

Cahill Tampil Buruk di Timnas Inggris

Perbedaan kualitas Cahill dengan Pogba

Perbedaan kualitas Cahill dengan Pogba

Bukan hal yang mengherankan jika klub-klub Liga Premier Inggris memiliki segudang pemain bertalenta. Misalnya saja Paul Pogba, yang pada awal musim lalu berhasil menyandang predikat sebagai pemain termahal di dunia. Selain Pogba, bisa kita lihat juga sosok bek Chelsea yang merupakan jawara Premier League musim ini, Gary Cahill.

Pada ajang kompetisi domestik, Pogba memang hanya mampu memberikan gelar Piala Europa saja. Tidak seperti Cahill yang mampu memberikan gelar English Premier League musim ini. Meski sama-sama berjumlah satu trofi, gengsi EPL dan kondisi Chelsea yang musim lalu terpuruk membuat pencapaian Cahill seakan berada di atas Pogba.

Kedua pemain raksasa Liga Premier tersebut pun akhirnya diperemukan kembali dalam partai internasional. Dalam laga persahabatan antara Perancis menghadapi Inggris tersebut, seakan menjadi pembuktian oleh Pogba. Tim Ayam Jantan berhasil menyudahi perlawanan The Three Lions dengan comeback yang sangat mengagumkan.

Cahill Bek Terburuk – Pejic

Gary Cahill dianggap sebagai salah satu dari trio bek terkuat Liga Inggris bersama David Luiz dan Cesar Azpilicueta yang dimiliki Chelsea. Predikat tersebut terbukti dengan minimnya jumlah kebobolan Chelsea di sepanjang musim kompetisi 2016-2017 kemarin.

Gary Cahill kerap membuat kesalahan dalam laga kontra Perancis

Gary Cahill kerap membuat kesalahan dalam laga kontra Perancis

Akan tetapi gelar tersebut sepertinya berbanding terbalik saat Cahill harus membela tim nasional Inggris. Dalam laga persahabatan menghadapi tim nasional Perancis, performa Cahill justru jauh berada di bawah standar. Bahkan hal tersebut sampai membuat mantan pemain Stoke City berkomentar pedas.

Cahill kerap kali kalah dalam duel satu lawan satu dengan para pemain depan Perancis. Hal ini tentu saja membuat kiper Jack Butland menjadi kalang kabut. Sebenarnya sang penjaga gawang juga sudah bermain cukup stabil dalam laga kontra Perancis tersebut.

Sementara itu, performa buruk Cahill menuai kritik pedas dari  Legenda Stoke City, Mike Pejic. Pejic menganggap performa Cahill tidak layak bermain seperti itu. Pejic pun juga memuji performa sang penjaga gawang, Jack Butland. Menurut Pejic, Butland  telah berhasil tampil dengan maksimal.

“Saya merasa kasihan dengan [Jack] Butland, karena dia harus bermain di belakang pemain seperti Gary Cahill, dia adalah salah satu pemain belakang terburuk, ketika berada dalam situasi satu lawan satu. Dia sangat mudah untuk diekspos oleh pemain lawan.” ujar Pejic.

Pogba Berhasil Jadi Penyeimbang Tim

Lain Cahill lain pula dengan Pogba. Gelandang Manchester United ini justru berhasil memimpin skuad Perancis tampil impresif. Lewat kemampuannya menjaga keseimbangan lapangan tengah, Pogba berhasil membuktikan tidak selamanya juara liga memiliki pemain dengan kemampuan yang bisa diandalkan.

Paul Pogba berhasil menjadi penyeimbang tim

Paul Pogba berhasil menjadi penyeimbang tim

Pogba mengawali gol kemenangan Perancis yang dicetak oleh Ousmane Dembele. Pogba mengirim umpan kepada Kylian Mbappe yang berhasil menyusur sisi kiri lapangan. Lalu Mbappe berhasil mengirim umpan kepada Dembele yyang akhirnya mencetak gol kemenangan untuk Les Blues.

 

Sangat terlihat perbedaan kualitas antara para punggawa Inggris dengan Perancis pada dini hari tadi. Yang mengejutkan adalah Inggris justru berhasil mencetak gol lebih dulu lewat aksi Harry Kane yang meneruskan umpan Ryan Bertrand.

Skuad Ayam Jago akhirnya berhasil menyamakan kedudukan lewat aksi Samuel Umtiti. Bek Barcelona tersebut berhasil menyambar bola liar hasil sundulan Olivier Giroud yang ditepis kiper Jack Butland. Kedudukan bahkan sempat berbalik ketika Djibril Sidibe berhasil menyambar bola rebound hasil tembakan Ousmane Dembele.

Memasuki babak kedua, Inggris kembali menyamakan kedudukan lagi-lagi lewat aksi Harry Kane. Akan tetapidi menit terakhir Ousmane Dembele berhasil menjadi pahlawan dengan memanfaatkan umpan silang hasil kerjasama Pogba-Mbappe.

 

Belotti dan Hart, Satu Tim Beda Nasib

Torino dari musim ke musim selalu hanya finish di zona papan tengah tanpa menyisakan satu prestasi pun di ajang kompetisi Serie A. Namun hal tersebut berbeda untuk musim 2016-2017 ini. Dengan sejumlah talenta yang menghuni skuad Il Toro, rival sekota Juventus ini berhasil mebuat Liga Italia musim ini menjadi lebih berwarna.

Performa Belotti dan Hart musim ini berbandingg terbalik

Performa Belotti dan Hart musim ini berbandingg terbalik

Semenjak ditangani Sinisa Mihajlovic memang Torino mulai membuat kejutan-kejutan di Serie A. Ini bukan merupakan hal yang mengagetkan mengingat Mihajlovic juga sempat membuat kejutan ketika dirinya menangani AC Milan. Namun musim ini, sepertinya kejutan Mihajlovic berlipat ganda.

Berawal dari kedatangan Joe Hart yang merantau ke Italia akibat jasanya tidak lagi terpakai oleh klub Liga Premier, Manchester City. Lalu kemudian munculnya performa gemilang dari Andrea Belotti di musim ini. Semua ini tentu membuat Torino mendadak menjadi klub Italia yang cukup disorot musim ini.

Sebab klub berjuluk Il Granata (Si Maroon) tersebut memiliki dua pemain yang didaulat menjadi pemain terbaik dan pemain terburuk musim ini. Adalah Andrea Belotti yang berhasil mencatatkan dirinya di urutan kedua top skor musim ini. Sedangkan untuk yang terburuk, siapa lagi kalau bukan sang kiper anyar, Joe Hart.

Popularitas Belotti Meroket Musim Ini

Selain tampil ciamik dan konsisten di klub musim ini, Andrea Belotti membuktikan bahwa kemampuannya tersebut tidak akan sia-sia di timnas. Terbukti ketika dirinya terpilih menjadi salah satu punggawa tim nasional Italia U-21. Belotti mampu menunjukan kelasnya di hadapan pelatih Luigi Di Biagio.

Belotti sukses mencatat 19 gol musim ini

Belotti sukses mencatat 19 gol musim ini

Di Biagio menganggap bahwa Belotti merupakan sosok penyerang terbaik yang dimiliki Gli Azzurri dalam dua tahun terakhir. Belotti tampil memukau di Serie A Italia dengan torehan 19 gol untuk Torino musim lalu. elain itu, tiga gol dalam empat penampilan membela timnas senior Italia juga berhasil dicatat Belotti.

“Menurut saya, Belotti adalah penyerang terbaik Italia dalam dua tahun terakhir. Dia selalu bekerja keras, cerdas dan mampu rutin mencetak gol. Saya sempat membaca bahwa seorang pemain bisa meraih level tersebut karena faktor sang pelatih yang mengembangkannya. Dia melakukannya dengan sangat baik.” ujar Di Biagio.

Ketika berada di bawah asuhan Antonio Conte, Belotti tidak berhasil menembus skuad Italia. Baru setelah Conte mengundurkan diri dan timnas Italia dilatih oleh Giampiero Ventura, penyerang berusia 22 tahun itu menjadi andalan di lini depan Azzurri.

Hart Tak Ingin Kembali Lagi ke Torino

Joe Hart sering buat blunder bersama Torino

Joe Hart sering buat blunder bersama Torino

Ibarat kejatuhan durian runtuh, mungkin itulah kata-kata yang tepat bagi Torino musim lalu. Sebab pada awal musim Il Toro justru bisa mendapatkan jasa penjaga gawang sekelas Joe Hart dengan biaya cuma-cuma. Tentu ekspektasi mereka terhadap Hart cukup tinggi saat itu.

Namun seiring waktu berjalan, ternyata kemampuan Joe Hart di bawah mistar gawang Torino tidaklah secemerlang nama besarnya. Sehingga orang-orang pun mulai mengerti mengapa pada saat itu manajer Pep Guardiola justru menyingkirkan nama Hart dari skuad utama Manchester City.

Hart di Torino juga setali tiga uang karena performanya tidak memuaskan karena kebobolan 62 gol dari 36 pertandingan di Serie A. Wajar saja jika Torino tak mau memperpanjang masa peminjamannya. Meski performanya dianggap kurang oke, Hart merasa pengalaman berharga sudah didapatnya selama membela Torino.

Kini nasib kiper tim nasional Inggris tersebut pun semakin tidak jelas. Meski masih bisa kembali ke Etihad Stadium, rasanya sangat sulit jika tidak bisa menembus skuad utama City. Namun meski begitu, Hart menyatakan dengan keras bahwa dirinya menolak untuk kembali dipinjamkan.

La Liga 2017 : Ronaldo Terbaik, Mathieu Biang Kegagalan

La Liga Spanyol akan segera memulai laga perdana musim 2017-2018 sebentar lagi. Namun musim lalu menyisakan sejumlah data dan fakta yang cukup mengejutkan, terutama soal statistik pemain. Real Madrid dan Barcelona sebagai dua klub teratas berhasil mencatatkan nama pemainnya ke dalam daftar pemain terbaik dan pemain terburuk La Liga musim ini.

Ronaldo sukses menjadi pemain terbaik musim ini

Ronaldo sukses menjadi pemain terbaik musim ini

Adalah Cristiano Ronaldo yang berhasil menjadi kunci sukses Real Madrid musim ini. Pemain sekaligus kapten tim nasional Portugal tersebut bahkan sukses membawa Los Merengues meraih double winner musim ini. Selain itu, pemain yang kerap dijuluki CR7 tersebut juga berhasil mencatat sejumlah pencapaian pribadi antara lainnya trofi Balon d’Or dan sejumlah rekor di kancah eropa.

Di sisi lain, sang rival abadi, Barcelona justru turut menyumbangkan pemainya sebagai pemain terburuk musim ini. Adalah Jeremy Mathieu dan Marc-Andre Ter Stegen yang menjadi pemein dengan performa terburuk. Meski juga termasuk, namun performa Ter Stegen tidakah lebih buruk jika dibanding Mathieu. Sebab diakhir musim Ter Stegen sempat menunjukan beberapa perbaikan.

Musim Lalu Jadi Musimnya Ronaldo

Musim kompetisi 2016-2017 bisa dibilang sebagai musimnya Cristiano Ronaldo. Pemain kelahiran Madeira tersebut berhasil menorehkan prestasi baik itu di kompetisi domestik maupun internasional. Sebut saja La Liga Spanyol, Euro 2016 dan yang terbaru yaitu Liga Champions Eropa. Mantan kekasih Irina Shayk tersebut sukses mencatat prestasi baik bersama klub maupun timnas Portugal.

Musim 2016-2017 menjadi musimnya Ronaldo

Musim 2016-2017 menjadi musimnya Ronaldo

Belum lagi sejumlah rekor dan trofi pribadi yang berhasil dicatat pemain yang memulai karirnya di Sporting Lisbon tersebut. Sebut saja rekor sebagai top skor di Liga Champions selama tiga musim, lalu penghargaan Pemain Terbaik versi FIFA. Dan tentu saja yang paling bergengsi adalah trofi Ballon d’Or yang beberapa musim lalu sempat didominasi oleh sang rival, Lionel Messi.

Namun sayang sekali, jelang pembukaan musim 2017-2018 ini ada kabar kurang mengenakan dari Cristiano. Adalah rumor kepindahannya dari Santiago Bernabeu yang berhembus semakin kencang. Selidik punya selidik kabar kepindahan tersebut ada hubungannya dengan kasus pajak yang menimpa mantan anak didik Sir Alex Ferguson tersebut. Ronaldo dikabarkan kecewa dengan pihak klub seakan lepas tangan.

Hal ini tentu saja merupakan angin segar bagi sejumlah raksasa eropa. Sempat dikabarkan Ronaldo akan kembali reuni dengan sang mantan klub, Manchester United. Namun belum lama ini juga ada kabar berhembus bahwa pemilik tendangan bebas cannonball ini juga menarik minat klub asal Perancis, Paris Saint-Germain.

Tampil Buruk Musim Lalu, Barca Segera Lepas Mathieu

Tampil buruk musim lalu, Barca jual Mathieu

Tampil buruk musim lalu, Barca jual Mathieu

Sementara itu, predikat pemain terburuk musim lalu sepertinya layak disematkan kepada bek Barcelona, Jeremy Mathieu. Barcelona memboyong Mathieu dari Valencia di awal musim 2014-2015. Selama tiga musim terakhir, pemain asal Perancis tersebut mencatat setidaknya 91 caps untuk tim asal Catalunya tersebut.

Musim ini Mathieu hanya berhasil tampil sebagai starter sebanyak 12 kali di ajang La Liga Spanyol dan Liga Champions 2016-2017. Pemain yang fleksibel dimainkan baik sebagai bek tengah maupun bek sayap tersebut memang kerap kali disebut sebagai penyebab kekalahan Blaugrana. Belum lagi masalah cedera yang kerap kali menimpa pemain asal Perancis tersebut.

Atas dasar tersebut, pihak manajemen klub memutuskan untuk melepas Jeremy Mathieu setelah berdiskusi dengan pelatih baru mereka, Ernesto Valverde. Galatasaray sempat disebut tertarik untuk memboyong Mathieu dalam beberapa pekan terakhir ini. Olympique Marseille juga dikabarkan memulangkan eks pemain Sochaux dan Toulouse itu ke Prancis.

Rekrutan Terbaik dan Terburuk Manchester United Musim 2016-2017

Merekrut Jose Mourinho sebagai manajer baru menggantikan Louis van Gaal pada awal musim 2016-2017 lalu, Manchester United melakukan sejumah pembelanjaan pemain. Nama pemain dan biaya transfer pun terbilang sangat fantastis, sanga jauh berbeda jika dibandingkan dengan era kepemimpinan Louis van Gaal.

Ibrahimovic dan Mkhitaryan menjadi dua nama yang mencuri perhatian publik sepakbola

Ibrahimovic dan Mkhitaryan menjadi dua nama yang mencuri perhatian publik sepakbola

Sejumlah nama besar seperti Henrikh Mkhitaryan, Zlatan Ibrahimovic, Eric Bailly hingga Paul Pogba didatangkan United. Bahkan biaya transfer Pogba berhasil memecahkan rekor sebagai pemain termahal di dunia. Yang mana merupakan sebuah ironi ketika sang pemain meniti karir sepakbolanya sejak usia muda di akademi Manchester United.

Namun ada yang lebih menarik dari sekedar transfer termahal di dunia Pogba yang didatangkan dari Juventus tersebut. Adalah kisah perjalanan dua rekrutan terbaru United lainnya, yaitu Ibrahimovic dan Mkhitaryan. Lini depan setan merah memang menjadi lini serang yang memiliki paling banyak pilihan di musim lalu.

Bahkan sebelum memboyong Ibra dan Miki, The Red Devils telah mempunyai sosok Marcus Rashford dan Anthony Martial di li ini depan. Kedatangan Ibra dan Mkhitaryan pun membuat persaingan di linin depan United menjadi bertambah panas.

Mkhitaryan Berhasil Bayar Kepercayaan Mou

Musim perdana Henrikh Mkhitaryan di Old Trafford bisa dibilang tidaklah semulus pemain baru Man United lainnya seperti Ibra, Pogba maupun Bailly. Meskipun diboyong dengan harga yang tidak murah, Mkhitaryan justru jarang mendapat kepercayaan dari sang manajer, Jose Mourinho.

Gol Scorpion Kick spektakuer dari Mkhitaryan

Gol Scorpion Kick spektakuer dari Mkhitaryan

Beberapa kali Mkhitaryan terpaksa menghuni bangku cadangan akibat Mourinho yang kurang mempercayainya. Mkhitaryan memang sempat mengalami cedera sesaat sebelum dimulai nya Liga Premier Inggris musim 2016-2107 kemarin. Dan sepertinya hal ini lah yang membuat kepercayaan Mou luntur.

Akan tetapi justru semakin kesini, ketika beberapa kali dimainkan Mkihtaryan justru sukses tampil memukau. Bahkan Mourinho pun mengaku tidak menyangka jika Mkhitaryan merupakan sosok pemain yang menghuni bangku cedera sekian lama usai pulih dari cedera. Sama sekali tidak terlihat seperti itu.

Sampai akhirnya pemain tim nasional Armenia tersebut mencetak gol dengan cara scorpion kick saat United menang 3-1 atas Sunderland 26 Desember 2016 lalu. Meneruskan umpan dari Zlatan Ibrahimovic pada menit ke-86, Mkhitaryan langsung melepaskan tendangan akrobatik ala Scorpion Kick tersebut.

Meski dalam rekaman terlihat Mkhitaryan tengah berada dalam posisi offside, wasit tetap mengesahkan gol tersebut. “Saya mengharapkan bola mengarah ke depan saya karena sudah bersiap di depan gawang. Namun, bola justru ada di belakang, sehingga saya mempunyai kesempatan menendang dengan tumit,” ujar Mkhitaryan.

Ibra Akhiri Musim 2016-2017 Dengan Pahit

Berbeda dengan Mkhitaryan, nasib Zlatan Ibrahimovic justru berbanding terbalik. Ibra yang tampil sangat trengginas pada awal-awal musim EPL musim lalu bergulir, justru terpaksa menelan pil pahit saat ini. Cedera lutut yang menimpa penyerang tim nasional Swedia tersebut memaksa  Ibrahimovic mengakhiri musim lebih cepat.

Cedera, Ibrahimovic terpaksa akhiri musim lebih cepat

Cedera, Ibrahimovic terpaksa akhiri musim lebih cepat

Cedera tersebut didapat Ibra saat Manchester United tengah menghadapi Anderlecht di leg kedua babak 8 besar Piala Europa musim lalu. Saat itu kedua tim yang masih dalam kedudukan imbang terpaksa melanjutkan pertandingan ke babak perpanjangan waktu.

Sayangnya, di menit-menit akhir waktu normal Ibra terpaksa ditarik keluar usai berbenturan dengan pemain Anderlecht. Usai dilakukan pemeriksan lebih lanjut, dokter klub menyatakan bahwa pemain bertubuh raksasa tersebut mengalami cedera lutut yang cukup parah dan memerlukan istirahat panjang.

Akhirnya Zlatan pun terpaksa menyudahi musim lebih cepat. Ini tentu membuatnya melewatkan sejumlah hal penting, seperti juaranya Manchester United di Piala Europa. Selain itu Ibrahimovic juga melewatkan satu hal penting lainnya di United, yaitu perpanjangan kontrak untuk musim depan.

Final UCL : Ronaldo Terbaik, Dybala Melempem

Liga Champions Eropa telah menyelesaikan kompetisi untuk musim 2016-2017. Dan Real Madrid pun berhasil keluar sebagai pemenang musim ini usai mengalahkan wakil Italia, Juventus. Keberhasilan mereka kemarin merupakan ke-12 kalinya Los Galacticos berhasil mengangkat trofi turnamen paling prestisius di eropa ini.

Real Madrid berhasil menjuarai final UCL

Real Madrid berhasil menjuarai final UCL

Bagi Juventus, ini merupakan ketiga kalinya mereka gagal menaklukan partai puncak EUFA Champions League. Setelah pada 2002/2003 mereka juga kalah atas sesama wakil Italia, AC Milan, mereka juga sempat melaju ke final pada 2014/2015. Namun saat itu Gianluigi Buffon dan kawan-kawan terpaksa menyerah atas Barcelona.

Berniat untuk membalaskan dendam atas kekalahan mereka kala itu, Il Bianconeri berhasil menuju ke Cardiff musim ini. Bertemu dengan Madrid yang juga wakil Spanyol, Juventus berharap bisa merasakan aroma balas dendam yang sama atas kekalahan dari Barcelona tiga musim lalu.

Namun Real Madrid yang lini serangnya dikepalai oleh Cristano Ronaldo masih terlalu tangguh untuk barisan pertahanan Juventus. Madrid pun menang dengan skor telak 4-1 dari masing-masing gol yang dicetak oleh Ronaldo, Casemiro dan Asensio. Sementara satu gol balasan Juventus dicetak oleh Mario Mandzukic.

Mengamuk, Ronaldo Cetak Dua Gol

Cristiano Ronaldo tampil sangat impresif dalam babak final Liga Champions 4 Juni 2017 kemarin. Dalam laga tersebut, Ronaldo berhasil mencetak dua gol masing-masing pada menit ke-20 dan menit 64. Los Blancos memang telah tampil mendominasi sejak menit-menit awal pertandingan.

Ronaldo tampil impresif dalam laga final UCL

Ronaldo tampil impresif dalam laga final UCL

Melalui kerjasama cantik dengan umpan-umpan pendek, Real Madrid berhasil menjebol gawang Il Bianconeri lewat kaki Ronaldo yang memanfaatkan operan Dani Carvajal. Namun berhasil disamakan kembali beberapa menit kemudian oleh Mario Mandzukic. Babak pertama berakhir dengan skor 1-1.

Memasuki babak kedua, Madrid kian mendominasi jalannya pertandingan. Alhasil menit ke-60 Casemiro berhasil melepaskan tendangan jarak jauh yang membuat Los Blancos kembali unggul. Empat menit berselang Ronaldo kembali memperbesar keunggulan Madrid menjadi 3-1.

Asensio pun menutup pesta gol Real Madrid pada menit 90+2. Melihat celah kosong yang ditinggalkan Buffon di sisi kirinya, Asensio tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Pertandingan berakhir dengan kemenangan Madrid 4-1 dan Ronaldo dinobatkan sebagai pemain terbaik sepanjang kompetisi.

Penampilan Dybala Melempem di Final

Lain Madrid lain pula Juventus. Paulo Dybala yang digadang-gadang akan memberi kejutan pada lini pertahanan Madrid justru tampil melempem. Tidak ada satu serangan berbahaya pun yang diepaskan Dybala dalam partai puncak turnamen paling prestisiu di eropa tersebut.

PErforma Dybala tidak impresif di babak final

PErforma Dybala tidak impresif di babak final

Beberapa kali gol Real Madrid tercipta lewat serangan balik akibat direbutnya bola dari penguasaan Dybala. Sepanjang pertandingan juga Dybala tidak terlihat membantu tim dalam mengembangkan permainan. Malah sosok Mario Mandzukic lah yang justru berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-26.

Mandzukic berhasil melesatkan tendangan salto melewati penjagaan Sergio Ramos usai menerima umpan dari Gonzalo Higuain. Tiga penyerang sekaligus yang diturunkan Tim Nyonya Tua masih belum bisa mengguncang kokohnya pertahanan Madrid yang dijaga duo Ramos-Varane.

Ini jadi gelar Champions ke-12 sepanjang sejarah Madrid di kompetisi ini atau yang keenam di era Liga Champions. Sementara Juventus lagi-lagi harus memendam impiannya meraih trofi Liga Champions ketiga mereka. Bagi klub asal Turin itu, ini adalah gelar runner-up ketujuh mereka dari sembilan kali melaju ke final Piala/Liga Champions.

Yang aneh dari hasil kekalahan Juventus kali ini adalah mereka belum pernah terkalahkan sepanjang turnamen. Menjadi tim yang dengan sembilan kemenangan dan tiga hasil imbang mereka justru harus menelan kekalahan pertama mereka di partai puncak.

Persib vs Persiba : Vujovic Gagal Penalti, Essien Tuai Pujian

Usai menjalani pekan penuh drama tentang berita pemecatan sang manajer, Persib Bandung berhasil menyudahi perlawanan sang tamu Pesiba Balikpapan. Tuan rumah berhasil memenangkan pertandingan tersebut dengan skor tipis 1-0 lewat gol yang tercipta di menit akhir. Adalah aksi sang pemain pengganti, Raphael Maitimo yang menjadi pahlawan bagi klub asal Bandung tersebut.

Raphael Maitimo cetak gol kemenangan Persib

Raphael Maitimo cetak gol kemenangan Persib

Tuan rumah telah mendominasi sejak peluit babak pertama dibunyikan. Dengan Michael Essien berperan sebagai pusat serangan, Persib berharap banyak pada sang marquee player yang didatangkan dengan harga selangit tersebut. Pernah mempersembahkan gelar Liga Champions untuk Chelsea, para pendukung  Maung Bandung berharap banyak kepada sosok pemai yang satu ini.

Meski tidak berhasil menyumbangkan gol, namun penampilan apik Essien berhasil menuai pujian dari sang pelatih, Djajang Nurjaman. Djajang yang beberapa pekan lalu sempat menyatakan mengundurkan diri terlihat masih mendampingi Persib. Sang pelatih mengaku bahwa pihak manajemen klub memohon kepadanya untuk bertahan paling tidak hingga akhir musim ini.

Vujovic Gagal Eksekusi Penalti

Pertandingan antara Persib Bandung melawan Persiba Balikpapan digelar di markas Persib, Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung. Kedua tim bertarung cukup sengit bahkan sejak awal dimulainya babak pertama. Baik Persib maupun Persiba sama-sama mengndalkan aksi pemain asing mereka, Michael Essien (Persib) dan Marlon Da Silva (Persiba).

Persib gagal unggul usai eksekusi penalti Vujovic gagal

Persib gagal unggul usai eksekusi penalti Vujovic gagal

Persiba berhasil menciptakan peluang emas lewat aksi Da Silva pada menit ke-13. Hanya saja tembakan penyerang asla Brasil tersebut masih mampu diamankan oleh penjaga gawang Persib, I Made Wirawan. Peluang tersebut menjadi satu-satunya peluang emas tim tamu. Selebihnya Persiba lebih banyak bertahan menahan gempuran serangan para pemain Maung Bandung.

Meski terus mendominasi jalannya laga, tuan rumah belum juga mampu memaksimalkan peluan dan membuatnya menjadi gol. Oleh karena itu babak pertama pun berakhir dengan skor 0-0. Memasuki babak kedua tuan rumah masih memegang kendali permainan. Persib hampir unggul andai saja sundulan Essien tidak melambung di atas mistar gawang Persiba Balikpapan.

Persib kembali memiliki kesempatan untuk unggul ketika laga memasuki menit ke-84. Gelandang Persiba, Siswanto melanggar pemain tuan rumah di kotak penalti. Namun sayang sekali, eksekusi penalti Vladimir Vujovic masih mampu dibaca dengan baik oleh Kurniawan Kartika Ajie. Gol kemenangan Persib pun akhirnya tiba lewat aksi sundulan Raphael Maitimo di penghujung laga.

Meski Tak Cetak Gol, Essien Terima Pujian

Essien tampil cukup baik di laga kontra Persiba

Essien tampil cukup baik di laga kontra Persiba

Meski tidak ikut menyumbangkan gol dalam kemenangan dramatis Persib melawan Persiba, penampilan Michael Essien tetap menuai pujian. Pelatih Djajang Nurjaman memuji performa apik Essien yang berusaha keras menjaga keseimbangan tim baik dalam menyerang maupun bertahan. Terlihat beberapa kali Essien jatuh-bangun mengamankan sektor tengah Maung Bandung.

Dua kali usaha tendangan bebas Essien masih meleset sediki di atas mistar gawang. Essien juga sempat melepaskan sejumlah crossing cantik yang nyaris membuat Persib unggul. Bermain selama 90 menit penuh, Djadjang terlihat sangat memberikan Essien kebebasan di lini tengah. Bahkan mantan pemain Chelsea, Madrid dan AC Milan tersebut nyaris mencetak gol lewat sundulan sebanyak tiga kali.

“Essien memang benar-benar membuktikan dirinya kemaren (saat lawan Persiba)” kata Djadjang di Mess Persib, Selasa (13/6).

Selain menaikkan intensitas serangan, bekas bintang Timnas Ghana tersebut juga rajin membantu pertahanan. Djadjang melihat motivasi besar Essien untuk bermain maksimal untuk Persib. Selama ini masih ada yang meragukan performa Essien selama bersama Pangeran Biru. Terutama saat Persib mengalami fase buruk tak pernah menang sejak pekan ke enam sampai pekan kesembilan.