Pemain Mahal Terbaik dan Terburuk Yang Pernah Dibeli Chelsea

Uang, money, dollar atau apapun orang-orang di seluruh dunia menyebutnya, merupakan faktor yang dapat menentukan nasib sebuah klub sepakbola. Memang bukan segalanya, akan tetapi jika sebuah tim kekurangan uang, maka kesempatan membengun tim pun juga akan semakin kecil. Hal ini ternyata benar-benar disadari oleh pemilik saham tunggal Chelsea, Roman Abramovich.

Moses bersinar dibawah kepelatihan Conte

Moses bersinar dibawah kepelatihan Conte

Pengusaha asa Rusia tersebut memang terkenal sebagai sosok pemilik yang tidak pelit untuk menghabiskan dana demi belanja pemain. Terlebih sewaktu jaman kepemimpinan Jose Mourinho, Abramovich sangat royal sekali kala itu. Sedangkan prestasi yang didapat justru nol besar. Mereka hanya berhasil finish di posisi 7 klasemen Liga Inggris musim 2010-2016, padahal musim sebelumnya mereka merupakan juara.

Kini sejak kedatangan Conte, pengeluaran Abramovich untuk membelanjakan dana klub menjadi lebih terkendali. Conte tidak terlalu bernafsu untuk membeli pemain berharga tinggi. Justru juru taktik asal Italia tersebut berhasil memanfaatkan skuad muda The Blues seperti Victor Moses, Kenedy hingga Ruben Loftus-Cheek. Kita semua tentu mengetahui betapa tidak dianggapnya pemain tersebut saat jaman Mourinho.

Moses di Tangan Conte, From Nothing to Something

Victor Moses merupakan salah satu pemain yang berkontribusi atas kesuksesan Chelsea musim ini. Sang pemain memang tidak terlalu terlihat sepaj terjangnya sejak diboyong dari Wigan Athletic dengan banderol 7 juta poundsterling. Kala itu masih banyak sekali bintang bertaburan di lini tengah dan sayap The Blues. Sehingga sangat wajar apabila Moses agak sulit untuk menembus skuad utama Chelsea.

Moses menjadi pemain vital di skuad utama Chelsea

Moses menjadi pemain vital di skuad utama Chelsea

Masuk pada masa kembalinya Jose Mourinho ke Chelsea, nama Moses semakin jarang menghuni skuad reguler Si London Biru. Seiring dengan terpuruknya prestasi Eden Hazard dan kawan-kawan kala itu, semakin sedikit penikmat sepakbola yang menyadari talenta pemuda asal Nigeria tersebut. Akan tetapi memasuki musim  2016-2017 Moses berhasil menggoreskan tinta emasnya dalam perjalanan Chelsea musim itu.

Kehadiran Antonio Conte yang menjabat sebagai manajer baru The Blues membuat frekuensi bermain Moses semakin tinggi. Area sisi kanan lapangan yang menjadi spesialis Moses pun semakin sering dihuninya. Banyak yang menyimpulkan bahwa perubahan skema habis-habisan yang dilakukan Conte sangat membutuhkan kinerja Moses di sisi sayap kanan.

Bukan hanya untuk kepentingan karir pribadinya saja, bahkan Moses berhasil membawa Chelsea meraih kejayaan musim ini. Chelsea sukses mengangkat kembali trofi Premier League yang dua musim lalu sempat dilakukannya. Keberadaan Moses tidak bisa dipungkiri sangat mempengaruhi performa Chelsea. Sang pemain kerap beberapa kali mencetak gol maupun assist dalam sebuah pertandingan krusial.

Chelsea Sempat Tertipu Dengan Nama Besar

Torres salah satu pembelian terburuk Chelsea

Torres salah satu pembelian terburuk Chelsea

Meski musim ini Chelsea terbilang beruntung karena berhasil mendapatkan sejumlah pemain berkualitas dengan harga minim, bukan berarti mereka tak pernah salah ambil keputusan. Beberapa kali The Blues sempat membeli pemain dengan harga fantastis. Namun ketika kompetisi berlangsung sang pemain tidak bisa menunjukan kualitasnya sepadan dengan banderol harga yang mahal.

Sebut saja dua penyerang ujung Chelsea beberapa tahun lalu, Andriy Shevchenko dan Fernando Torres. Kedua nama tersebut bisa dibilang sebagai kesalahan tim dalam  mengambil keputusan. Sejak sahamnya dikuasai secara pribadi oleh Roman Abramovich, The Blues memang tidak pernah pelit dalam urusan belanja pemain. Ditambah lagi sang pengusaha asal Rusia tersebut gemar mengincar pemain yang menjadi ikon klub.

Bermula dari Andriy Shevchenko, Michael Ballack, Ashley Cole hingga yang paling baru adalah Fernando Torres. Pemain-pemain tersebut merupakan sosok yang mempunyai peran penting di klub mereka terdahulu. Apalagi Torres yang merupakan mesin gol utama Liverpool kala itu. Namun yang terjadi justru Torres semakin terpuruk di Stamford Bridge hingga akhirnya memutuskan kembali ke mantan klubnya, Atletico Madrid.

 

Bravo, Lesu di Liga Galak di Timnas

Claudio Bravo sukses menjadi pahlawan dalam pertandingan semifinal Piala Konfederasi saat tim nasional Cili mengandaskan perlawanan Portugal. Dalam turnamen yang digelar di Kazan Arena, Rusia tersebut Bravo dan kawan-kawan berhasil mengubur mimpi Cristiano Ronaldo cs untuk melaju ke babak final lewat adu penalti. Bravo berhasil menjadi penyelamat usai menggagalkan tiga eksekutor Portugal secara beruntun.

Bravo tampil fantastis dalam laga kontra Portugal

Bravo tampil fantastis dalam laga kontra Portugal

Dalam laga semifinal tersebut, kedua tim bermain dengan sangat ketat. Tidak ada satu pun gol yang tercipta hingga 2 kali 45 menit pertandingan. Bahkan hingga dua kali 15 menit perpanjangan waktu dilakukan, skor kacamata tetap bertahan. Dan akhirnya Cili berhasil memastikan kemenangan mereka lewat babak adu penalti dengan skor akhir 3-0. Kejadian ini seperti pengulangan final Concacaf tahun lalu ketika Cili menumbangkan Argentina.

Penampilan impresif Claudio Bravo berhasil menjadikannya man of the match dalam pertandingan ini. Sempat menjadi tumpuan di bawah mistar gawang Manchester City, penampilan Bravo di liga musim kemarin terbilang buruk. Bahkan The Citizens hanya mampu finish di urutan ketiga dalam kompetisi Liga Premier Inggris musim 2016-2017. Namun hal yang berbeda justru terjadi di timnas Cili dalam Piala Konfederasi 2017.

Bravo Tahan Tiga Penalti Beruntun

Tim nasional Cili memastikan tempat mereka di partai final Piala Konfederasi 2017. Mereka berhasil lolos usai menjalani pertandingan semi-final mendebarkan melawan Portugal di Kazan Arena, Rusia Kamis 29 Juni kemarin. Menjalani laga yang sangat ketat, kedua tim tersebut terpaksa menyelesaikan laga dengan adu penalti yang berakhir 3-0 untuk kemenangan Cili.

Bravo menjadi pahlawan bagi timnas Cili

Bravo menjadi pahlawan bagi timnas Cili

Dalam babak adu penalti tersebut, Bravo menjadi pahlawan kemenangan Cili usai menjaga gawangnya sama sekali tak kebobolan. Kiper Manchester City itu sukses menepis tiga penendang Portugal yakni Ricardo Quaresma, Joao Moutinho dan Nani secara beruntun. Sementara di kubu Cile sendiri, Vidal, Charles Aranguiz dan Sanchez sempurna menjalankan tugas mereka.

Tidak hanya di babak penalti saja, Bravo bahkan tampil dengan sangat baik di sepanjang jalannya laga. Beberapa kali kiper Cili tersebut menggagalkan usaha Ronaldo dan kawan-kawan untuk mencuri gol dari gawang Cili. Terbukti gawang yang dijaga Bravo berhasil aman hingga 90 menit pertandingan dan 30 menit tambahan waktu. Hingga akhirnya sang kiper berhasil memupuskan harapan Portugal.

Kucing di Klub, Tapi Singa di Timnas

Laga berjalan menarik sejak awal dengan kedua tim bermain terbuka dan saling balas serangan. Cile unggul dalam serangan ketika memanfaatkan lebar lapangan, sementara Portugal lebih fokus lewat tengah dengan pergerakan Ronaldo. Tapi babak pertama harus ditutup tanpa gol selepas kedua tim sama-sama tak mampu mengoptimalkan setiap peluang yang didapat.

Aksi Bravo menahan eksekusi penalti Quaresma

Aksi Bravo menahan eksekusi penalti Quaresma

Laga yang berlangsung di Kazan semakin menarik di paruh kedua. Kedua tim sama-sama gencar melancarkan serangan yang sangat bahaya. Baik Alexis Sanchez maupun Cristiano Ronaldo saling menebar ancaman ke gawang lawan. Sayang sekali hingga wasit meniup peluit tanda waktu normal pertandingan berakhir, kedua tim sama-sama belum berhasil memecah kebuntuan.

Pertandingan terpaksa dilanjutan ke babak tambahan. Meski tapaknya atmosfir pertandingan sudah panas sejak awal, tempo permainan tampak tak mengalami perubahan di babak tambahan ini. Mental dan ketahanan fisik kedua tim tidak tampak seperti dua tim yang frustasi. Masih saling menciptakan peluang, namun pada akhirnya laga pun dilanjutkan ke adu penalti.

Adalah Claudio Bravo yang berhasil menjadi pahlawan Portugal dalam babak adu penalti. Penampilan Bravo ini sangatlah mengagetkan, mengingat penampilan sang pemain bersama Manchester City terbilang tidak terlalu gemilang. Momen ini mengingatkan akan kesaktian Bravo yang juga sukses menumbangkan Lionel Messi bersama Argentina di Final CONCACAF 2016 lalu.

Cahill Tampil Buruk di Timnas Inggris

Perbedaan kualitas Cahill dengan Pogba

Perbedaan kualitas Cahill dengan Pogba

Bukan hal yang mengherankan jika klub-klub Liga Premier Inggris memiliki segudang pemain bertalenta. Misalnya saja Paul Pogba, yang pada awal musim lalu berhasil menyandang predikat sebagai pemain termahal di dunia. Selain Pogba, bisa kita lihat juga sosok bek Chelsea yang merupakan jawara Premier League musim ini, Gary Cahill.

Pada ajang kompetisi domestik, Pogba memang hanya mampu memberikan gelar Piala Europa saja. Tidak seperti Cahill yang mampu memberikan gelar English Premier League musim ini. Meski sama-sama berjumlah satu trofi, gengsi EPL dan kondisi Chelsea yang musim lalu terpuruk membuat pencapaian Cahill seakan berada di atas Pogba.

Kedua pemain raksasa Liga Premier tersebut pun akhirnya diperemukan kembali dalam partai internasional. Dalam laga persahabatan antara Perancis menghadapi Inggris tersebut, seakan menjadi pembuktian oleh Pogba. Tim Ayam Jantan berhasil menyudahi perlawanan The Three Lions dengan comeback yang sangat mengagumkan.

Cahill Bek Terburuk – Pejic

Gary Cahill dianggap sebagai salah satu dari trio bek terkuat Liga Inggris bersama David Luiz dan Cesar Azpilicueta yang dimiliki Chelsea. Predikat tersebut terbukti dengan minimnya jumlah kebobolan Chelsea di sepanjang musim kompetisi 2016-2017 kemarin.

Gary Cahill kerap membuat kesalahan dalam laga kontra Perancis

Gary Cahill kerap membuat kesalahan dalam laga kontra Perancis

Akan tetapi gelar tersebut sepertinya berbanding terbalik saat Cahill harus membela tim nasional Inggris. Dalam laga persahabatan menghadapi tim nasional Perancis, performa Cahill justru jauh berada di bawah standar. Bahkan hal tersebut sampai membuat mantan pemain Stoke City berkomentar pedas.

Cahill kerap kali kalah dalam duel satu lawan satu dengan para pemain depan Perancis. Hal ini tentu saja membuat kiper Jack Butland menjadi kalang kabut. Sebenarnya sang penjaga gawang juga sudah bermain cukup stabil dalam laga kontra Perancis tersebut.

Sementara itu, performa buruk Cahill menuai kritik pedas dari  Legenda Stoke City, Mike Pejic. Pejic menganggap performa Cahill tidak layak bermain seperti itu. Pejic pun juga memuji performa sang penjaga gawang, Jack Butland. Menurut Pejic, Butland  telah berhasil tampil dengan maksimal.

“Saya merasa kasihan dengan [Jack] Butland, karena dia harus bermain di belakang pemain seperti Gary Cahill, dia adalah salah satu pemain belakang terburuk, ketika berada dalam situasi satu lawan satu. Dia sangat mudah untuk diekspos oleh pemain lawan.” ujar Pejic.

Pogba Berhasil Jadi Penyeimbang Tim

Lain Cahill lain pula dengan Pogba. Gelandang Manchester United ini justru berhasil memimpin skuad Perancis tampil impresif. Lewat kemampuannya menjaga keseimbangan lapangan tengah, Pogba berhasil membuktikan tidak selamanya juara liga memiliki pemain dengan kemampuan yang bisa diandalkan.

Paul Pogba berhasil menjadi penyeimbang tim

Paul Pogba berhasil menjadi penyeimbang tim

Pogba mengawali gol kemenangan Perancis yang dicetak oleh Ousmane Dembele. Pogba mengirim umpan kepada Kylian Mbappe yang berhasil menyusur sisi kiri lapangan. Lalu Mbappe berhasil mengirim umpan kepada Dembele yyang akhirnya mencetak gol kemenangan untuk Les Blues.

 

Sangat terlihat perbedaan kualitas antara para punggawa Inggris dengan Perancis pada dini hari tadi. Yang mengejutkan adalah Inggris justru berhasil mencetak gol lebih dulu lewat aksi Harry Kane yang meneruskan umpan Ryan Bertrand.

Skuad Ayam Jago akhirnya berhasil menyamakan kedudukan lewat aksi Samuel Umtiti. Bek Barcelona tersebut berhasil menyambar bola liar hasil sundulan Olivier Giroud yang ditepis kiper Jack Butland. Kedudukan bahkan sempat berbalik ketika Djibril Sidibe berhasil menyambar bola rebound hasil tembakan Ousmane Dembele.

Memasuki babak kedua, Inggris kembali menyamakan kedudukan lagi-lagi lewat aksi Harry Kane. Akan tetapidi menit terakhir Ousmane Dembele berhasil menjadi pahlawan dengan memanfaatkan umpan silang hasil kerjasama Pogba-Mbappe.

 

Rekrutan Terbaik dan Terburuk Manchester United Musim 2016-2017

Merekrut Jose Mourinho sebagai manajer baru menggantikan Louis van Gaal pada awal musim 2016-2017 lalu, Manchester United melakukan sejumah pembelanjaan pemain. Nama pemain dan biaya transfer pun terbilang sangat fantastis, sanga jauh berbeda jika dibandingkan dengan era kepemimpinan Louis van Gaal.

Ibrahimovic dan Mkhitaryan menjadi dua nama yang mencuri perhatian publik sepakbola

Ibrahimovic dan Mkhitaryan menjadi dua nama yang mencuri perhatian publik sepakbola

Sejumlah nama besar seperti Henrikh Mkhitaryan, Zlatan Ibrahimovic, Eric Bailly hingga Paul Pogba didatangkan United. Bahkan biaya transfer Pogba berhasil memecahkan rekor sebagai pemain termahal di dunia. Yang mana merupakan sebuah ironi ketika sang pemain meniti karir sepakbolanya sejak usia muda di akademi Manchester United.

Namun ada yang lebih menarik dari sekedar transfer termahal di dunia Pogba yang didatangkan dari Juventus tersebut. Adalah kisah perjalanan dua rekrutan terbaru United lainnya, yaitu Ibrahimovic dan Mkhitaryan. Lini depan setan merah memang menjadi lini serang yang memiliki paling banyak pilihan di musim lalu.

Bahkan sebelum memboyong Ibra dan Miki, The Red Devils telah mempunyai sosok Marcus Rashford dan Anthony Martial di li ini depan. Kedatangan Ibra dan Mkhitaryan pun membuat persaingan di linin depan United menjadi bertambah panas.

Mkhitaryan Berhasil Bayar Kepercayaan Mou

Musim perdana Henrikh Mkhitaryan di Old Trafford bisa dibilang tidaklah semulus pemain baru Man United lainnya seperti Ibra, Pogba maupun Bailly. Meskipun diboyong dengan harga yang tidak murah, Mkhitaryan justru jarang mendapat kepercayaan dari sang manajer, Jose Mourinho.

Gol Scorpion Kick spektakuer dari Mkhitaryan

Gol Scorpion Kick spektakuer dari Mkhitaryan

Beberapa kali Mkhitaryan terpaksa menghuni bangku cadangan akibat Mourinho yang kurang mempercayainya. Mkhitaryan memang sempat mengalami cedera sesaat sebelum dimulai nya Liga Premier Inggris musim 2016-2107 kemarin. Dan sepertinya hal ini lah yang membuat kepercayaan Mou luntur.

Akan tetapi justru semakin kesini, ketika beberapa kali dimainkan Mkihtaryan justru sukses tampil memukau. Bahkan Mourinho pun mengaku tidak menyangka jika Mkhitaryan merupakan sosok pemain yang menghuni bangku cedera sekian lama usai pulih dari cedera. Sama sekali tidak terlihat seperti itu.

Sampai akhirnya pemain tim nasional Armenia tersebut mencetak gol dengan cara scorpion kick saat United menang 3-1 atas Sunderland 26 Desember 2016 lalu. Meneruskan umpan dari Zlatan Ibrahimovic pada menit ke-86, Mkhitaryan langsung melepaskan tendangan akrobatik ala Scorpion Kick tersebut.

Meski dalam rekaman terlihat Mkhitaryan tengah berada dalam posisi offside, wasit tetap mengesahkan gol tersebut. “Saya mengharapkan bola mengarah ke depan saya karena sudah bersiap di depan gawang. Namun, bola justru ada di belakang, sehingga saya mempunyai kesempatan menendang dengan tumit,” ujar Mkhitaryan.

Ibra Akhiri Musim 2016-2017 Dengan Pahit

Berbeda dengan Mkhitaryan, nasib Zlatan Ibrahimovic justru berbanding terbalik. Ibra yang tampil sangat trengginas pada awal-awal musim EPL musim lalu bergulir, justru terpaksa menelan pil pahit saat ini. Cedera lutut yang menimpa penyerang tim nasional Swedia tersebut memaksa  Ibrahimovic mengakhiri musim lebih cepat.

Cedera, Ibrahimovic terpaksa akhiri musim lebih cepat

Cedera, Ibrahimovic terpaksa akhiri musim lebih cepat

Cedera tersebut didapat Ibra saat Manchester United tengah menghadapi Anderlecht di leg kedua babak 8 besar Piala Europa musim lalu. Saat itu kedua tim yang masih dalam kedudukan imbang terpaksa melanjutkan pertandingan ke babak perpanjangan waktu.

Sayangnya, di menit-menit akhir waktu normal Ibra terpaksa ditarik keluar usai berbenturan dengan pemain Anderlecht. Usai dilakukan pemeriksan lebih lanjut, dokter klub menyatakan bahwa pemain bertubuh raksasa tersebut mengalami cedera lutut yang cukup parah dan memerlukan istirahat panjang.

Akhirnya Zlatan pun terpaksa menyudahi musim lebih cepat. Ini tentu membuatnya melewatkan sejumlah hal penting, seperti juaranya Manchester United di Piala Europa. Selain itu Ibrahimovic juga melewatkan satu hal penting lainnya di United, yaitu perpanjangan kontrak untuk musim depan.